Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

19 KONTAINER MUATAN BALIK TOL LAUT DIANGKUT DARI LEWOLEBA NTT MENUJU SURABAYA

19 KONTAINER MUATAN BALIK TOL LAUT DIANGKUT DARI LEWOLEBA NTT MENUJU SURABAYA19 KONTAINER MUATAN BALIK TOL LAUT DIANGKUT DARI LEWOLEBA NTT MENUJU SURABAYA

LEWOLEBA (10/3) - Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kelas III Lewoleba bekerjasama serta mendorong Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan muatan balik Tol Laut. Karena selain menurunkan disparitas harga, Tol Laut juga dapat menjadi sarana meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kepala kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) kelas III Lewoleba, Johanes Ola mengungkapkan selama ini muatan balik Tol Laut dari daerahnya tidak sepi. Hal ini tidak lepas dari peran masyarakat setempat yang antusias semenjak adanya rute Tol Laut di daerah tersebut.

“Muatan balik tidak pernah kosong. Minimal 10 kontainer dry full (muatan kering) terdiri dari hasil bumi dan reefer,” kata dia, Rabu (10/3).

Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu pelabuhan singgah Tol Laut yang disandari oleh KM Caraka Jaya Niaga III – 22 yang mendapat penugasan untuk rute dari Pelabuhan Tanjung Perak – Larantuka- Lewoleba (PP). Kapasitas kapal mencapai 171 boks, 181 boks dan 105 boks peti kemas (kontainer) berukuran 20 feet.

Dia mengungkapkan muatan balik Tol Laut tanggal 8 Maret 2021 mencapai 19 kontainer terdiri dari muatan kering (dry full) dan reefer full.

“Tanggal 8 Maret itu bongkar 44 kontainer dry full dan 4 reefer empty. Muatan baliknya 15 kontainer dry full hasil bumi dan  4 reefer full  tujuan Tanjung Perak,” ungkapnya.

Johanes mengungkapkan kesadaran masyarakat sangat penting untuk memaksimalkan muatan balik tersebut. Sebab keberadaan Tol Laut tidak hanya untuk menerima kiriman logistik tetapi juga untuk mengirimkan produk-produk lokal yang menjadi unggulan.

Dia memaparkan dengan adanya Tol Laut, masyarakat sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya berupa makanan, material bahan bangunan dengan harga yang terjangkau.

Selain itu, mereka juga dapat memasarkan produk lokal menuju pasar yang lebih menguntungkan dalam hal ini ke Pulau Jawa. Sehingga terjadi perbaikan dari sisi ekonomi karena pendapatan masyarakat menjadi meningkat.

Selama ini sudah banyak masyarakat yang berpartisipasi dalam pengisian muatan balik Tol Laut dengan mengirimkan hasil bumi, perikanan, hingga besi tua. Hasil masyarakat tersebut di jual ke pulau Jawa melalui Surabaya.

“Kehadiran Tol Laut cargo di Pelabuhan Lewoleba sangat bermafaat bagi masyarakt disini karena sangat murah,” paparnya.

Reaksi dan Komentar