Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

Atasi Permasalahan Kerangka Kapal, Ditjen Hubla Tingkatkan Kesadaran tentang Wreck Removal Insurance & Protection and Indemnitiy

Atasi Permasalahan Kerangka Kapal, Ditjen Hubla Tingkatkan Kesadaran tentang Wreck Removal Insurance & Protection and IndemnitiyAtasi Permasalahan Kerangka Kapal, Ditjen Hubla Tingkatkan Kesadaran tentang Wreck Removal Insurance & Protection and IndemnitiyAtasi Permasalahan Kerangka Kapal, Ditjen Hubla Tingkatkan Kesadaran tentang Wreck Removal Insurance & Protection and IndemnitiyAtasi Permasalahan Kerangka Kapal, Ditjen Hubla Tingkatkan Kesadaran tentang Wreck Removal Insurance & Protection and Indemnitiy

BATAM (14/11) – Menjadi salah satu negara yang lalu lintas lautnya padat, kasus kecelakaan atau insiden kapal di Indonesia masih acapkali terjadi. Kecelakaan tersebut menimbulkan risiko, salah satunya adalah keberadaan kerangka kapal dan muatannya. Akibatnya, kelancaran aktivitas pelayaran terhambat serta membahayakan aspek keselamatan dan keamanan pelayaran.

 

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut Dan Pantai, Jon Kenedi mengungkapkan, upaya penanganan kerangka kapal yang mengalami musibah di laut harus segera dilakukan karena dapat menimbulkan persoalan lanjutan yang berisiko bagi keselamatan dan keamanan pelayaran. Untuk itu, pemberlakuan asuransi penyingkiran kerangka kapal (wreck removal) wajib diberlakukan. 

 

“Perlu adanya jaminan asuransi atau kerja sama dengan perusahaan asuransi yang memiliki dasar hukum yang sah sebagaimana diatur dalam Konvensi Internasional Nairobi tentang Penyingkiran Kerangka-Kapal, 2007, yang mengatur kewajiban asuransi penyingkiran kerangka kapal (wreck removal),” ungkap Jon Kenedi.

 

Urgensi tersebut yang mendasari Kementerian Perhubungan c.q. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menggelar Workshop Ship Insurance Liability Based International Provisions bagi seluruh Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Batam, (14/11).

 

Pihaknya mengatakan, pembekalan ini diperlukan untuk mempersiapkan langkah percepatan penanganan kerangka kapal di wilayah kerja masing-masing. “Terutama dari sisi pembiayaan oleh pihak asuransi kapal (wreck removal insurance) dengan waktu yang terukur yaitu paling lama 180 hari kalender sejak kapal mengalami kecelakaan,” ungkapnya.

 

Seperti diketahui, Wreck Removal Insurance merupakan asuransi yang memberikan perlindungan dari risiko kewajiban biaya atas penyingkiran kerangka kapal (wreck removal) oleh otoritas pelabuhan yang dapat diperluas dengan risiko tanggung jawab pencemaran polusi.

 

Wreck removal yang dimaksud termasuk kewajiban atas biaya-biaya dan pengeluaran-pengeluaran untuk pengangkatan, pemindahan, penghancuran, pengapungan atau penandaan bangkai kapal atau cargo milik tertanggung, peralatan atau harta benda yang berada atau dibawa di atas kapal tersebut. Namun dengan ketentuan, bahwa tertanggung diwajibkan secara hukum untuk melakukan operasi atau menanggung biaya-biaya tersebut. 

 

Jon Kenedy menegaskan bahwa percepatan penyelesaian penanganan kerangka kapal ini dapat berimplikasi dengan kepentingan-kepentingan lainnya. “Prinsipnya, kita harus tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan pelayaran, perlindungan lingkungan maritim serta kelancaran aktivitas pelayaran sebagai pendukung moda transportasi laut untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat,” tegasnya. (AD/MM/HB)

Reaksi dan Komentar