Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

INDONESIA HADIRI PERTEMUAN REGIONAL MEPSEAS DI MANILA BAHAS PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM

INDONESIA HADIRI PERTEMUAN REGIONAL MEPSEAS DI MANILA BAHAS PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM

​

MANILA (27/8) – Indonesia melalui Kementerian Perhubungan Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menunjukkan peran aktifnya di dunia internasional dalam upaya perlindungan lingkungan maritim dengan mengirimkan delegasinya menghadiri Pertemuan The Second High-Level Regional Meeting of Marine Environment Protection of South East Asia Seas Project (MEPSEAS) yang dihelat di the New World Manila Bay Hotel, Manila, Filipina selama 3 (tiga) hari mulai hari ini (27/8) sampai dengan Kamis (29/8).

Bertindak selaku Ketua Delegasi Indonesia, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Arif Toha, memimpin Delegasi Indonesia menghadiri Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan dari 7 (tujuh) negara ASEAN yang terlibat dalam MEPSEAS, yakni Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

“Selain ketujuh negara tersebut, hadir pula perwakilan dari IMO dan Norwegia/NORAD serta strategic partners, antara lain ASEAN Secretariat, Tokyo MOU Secretariat, PEMSEA, Federation of ASEAN Shipowners Association serta Woman in Maritime (WIMA) Asia,” jelas Arif.

Arif menjelaskan, bahwa MEPSEAS adalah salah satu kegiatan kerjasama yang digawangi oleh International Maritime Organization (IMO) dengan dukungan dana dari Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD), yang bertujuan untuk meningkatkan perlindungan lingkungan maritim di kawasan Asia Tenggara.
IMG-20190827-WA0116.jpg
Proyek yang akan berlangsung selama empat tahun, mulai tahun 2018 sampai dengan 2021 yang melibatkan tujuh negara ASEAN tersebut, menurut Arif, merupakan kelanjutan dari IMO/NORAD Project on Ratification and Implementation of IMO’s Marine Environmental Convention in Sub-Asia Region (2014-2018).

“Fokus dari proyek ini adalah 4 (empat) instrument IMO di bidang perlindungan lingkungan maritim, yaitu Anti Fouling System Convention (AFS), Ballast Water Management Convention (BWM), MARPOL, dan London Convention/Protocol,” kata Arif.

Adapun pertemuan kali ini, lanjut Arif, adalah pertemuan kedua antara Maritime Administrators negara-negara yang terlibat dalam Project, Tim Nasional, serta Tim IMO yang bertujuan untuk berbagi pengalaman akan perkembangan Project selama satu tahun terakhir.

“Pada pertemuan kali ini, yang dibahas adalah perkembangan Project selama satu tahun terakhir, apakah sesuai dengan Roadmap implementasi yang telah disepakati oleh masing-masing negara pada pertemuan sebelumnya di Bali bulan Juni tahun 2018 lalu,” katanya.

Lebih lanjut, Arif menjelaskan, pada Project ini, fokus dari Pemerintah Indonesia adalah implementasi Konvensi AFS telah diratifikasi pada tahun 2014 melalui Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2014 dan Konvensi BWM yang telah diratifikasi pada tahun 2015 dengan Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2015.

Menurut Arif, pada Pertemuan ini, Indonesia telah menyampaikan antara lain terkait update National Action Plan dan National Work Programme, pengiriman 4 (empat) orang trainee untuk mengikuti Regional Workshop of Train-the-Trainer di Singapura pada tanggal 28-30 Mei 2019, pelatihan atau training nasional mengenai hukum, kebijakan dan reformasi kelembagaan, Policy and Institutional Reform (LPIR) pada tanggal 29 Juli – 1 Agustus 2019 bertempat di STIP Jakarta.

“Dan terakhir, kita sampaikan juga hasil pembahasan tentang Same Risk Area (SRA) pada ASEAN Maritime Transport Working Group ke-38 di Singapura pada tanggal 21-23 Agustus lalu,” ujar Arif.
IMG-20190827-WA0117.jpg
Selanjutnya, Arif menjelaskan, bahwa sejalan dengan Project ini, Indonesia juga sedang melakukan Port Biological Baseline Surveys (PBBS) terhadap 4 (empat) Pelabuhan Utama, yaitu Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Batam, serta Pelabuhan Makassar.

“Survey ini kami harapkan dapat diselesaikan akhir tahun ini, sehingga kita dapat memperoleh data spesies atau biota di perairan tersebut, yang nantinya akan menjadi dasar bagi penerapan BWM dan juga untuk penetapan SRA,” tutup Arif.


Reaksi dan Komentar