Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

INDONESIA SAMPAIKAN INTERVENSI TERKAIT KESELAMATAN PELAYARAN DI SIDANG IMO COUNCIL 132

INDONESIA SAMPAIKAN INTERVENSI TERKAIT KESELAMATAN PELAYARAN DI SIDANG IMO COUNCIL 132INDONESIA SAMPAIKAN INTERVENSI TERKAIT KESELAMATAN PELAYARAN DI SIDANG IMO COUNCIL 132INDONESIA SAMPAIKAN INTERVENSI TERKAIT KESELAMATAN PELAYARAN DI SIDANG IMO COUNCIL 132INDONESIA SAMPAIKAN INTERVENSI TERKAIT KESELAMATAN PELAYARAN DI SIDANG IMO COUNCIL 132

LONDON (12/7) – Pada hari ke-4 Sidang Internasional Maritime Organization (IMO) Council 132 yang digelar di Markas Besar IMO di London Inggris, Kamis (11/7), Delegasi Indonesia menyampaikan beberapa intervensi terkait keselamatan pelayaran.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Hendri Ginting, pada Sidang tersebut menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Jenderal IMO atas pembaruan terhadap review Global Integrated Shipping Information System (GISIS) dan proyek pengelolaan data.

“Dalam hal ini, Indonesia menekankan bahwa penyelarasan peningkatan GISIS dengan pengembangan Maritime Autonomus Surface Ships (MASS) Code yang sedang berlangsung harus dipertimbangkan,” ungkap Ginting.

Ginting menjelaskan, terdapat dua area utama di mana keselarasan dapat dicapai. Pertama, mengenai modul-modul di bawah GISIS. Indonesia melihat pengembangan MASS Code yang sedang berlangsung sebagai langkah positif untuk pengoperasian kapal otonom. 

“Oleh karena itu, kami yakin modul GISIS, khususnya Modul Maritime Casualties and Incident (Korban dan Insiden Maritim), dapat diperkuat dengan menggabungkan data dari kapal MASS, sehingga dapat menghasilkan pemahaman yang lebih baik mengenai insiden yang melibatkan kapal otonom,” ujarnya.

Kedua, penerapan Maritime Single Window (MSW) dan MASS. Ginting menyampaikan, Indonesia percaya bahwa MSW dalam GISIS dapat secara signifikan meningkatkan izin pelabuhan untuk kapal kargo yang menggunakan sistem MASS. Untuk integrasi yang optimal, mungkin diperlukan penyesuaian terhadap sertifikat dan dokumentasi untuk kapal semacam itu.

“Indonesia percaya bahwa menyelaraskan pengembangan GISIS dengan MASS Code dapat mengembangkan sistem masa depan yang mendukung pengoperasian kapal otonom yang aman dan efisien,” tukas Ginting.

Lebih lanjut, sebagai salah satu co-sponsor Dokumen C132/15 Protection of Vital Shipping Lanes, Development in the Co-operative Mechanism for the Straits of Malacca and Singapore, Indonesia bersama negara-negara Pantai lainnya, Singapura dan Malaysia, menyampaikan terima kasih kepada seluruh donor dan kontributor yang terus mendukung upaya peningkatan keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura. 

“Kontribusi Anda memastikan bahwa Selat Malaka tetap terbuka, aman, dan berkelanjutan untuk pelayaran internasional,” Ginting menyampaikan dalam Sidang.

Pada kesempatan tersebut, Ginting mewakili Pemerintah Indonesia yang pada tahun 2024 ini bertindak sebagai Tuan Rumah, juga mengundang negara-negara pengguna, donor, dan pemangku kepentingan terkait untuk bergabung dan turut hadir pada Pertemuan Cooperation Forum (CF) ke-15 dan Tripartite Technical Experts Group (TTEG) ke-47, yang akan digelar di Bali pada tanggal 21-25 Oktober 2024 mendatang. 

“Pertemuan tersebut memberikan kita kesempatan yang sangat baik untuk membahas kemajuan dalam keselamatan navigasi pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura dalam lingkungan kondusif dan bersahabat,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Delegasi Indonesia juga mengucapkan terima kasih kepada Sekretariat IMO yang telah memberikan informasi terkini mengenai tahun pertama beroperasinya Dana Perwalian Multi-Donor Sukarela (Voluntary Multi-Donor Trust Fund /VMDTF) IMO.

Indonesia, terang Ginting, mengakui pentingnya peran VMDTF dalam meningkatkan partisipasi negara-negara berkembang, khususnya Negara Berkembang Kepulauan Kecil (Small Island Developing States/SIDS) dan Negara-negara Tertinggal (Least Developed Countries/LDCs), dalam pertemuan-pertemuan IMO, khususnya Pertemuan-pertemuan terkait Marine Environment Protection Committee (MEPC) dan Green House Gases (GHG).

“Indonesia memandang bahwa VMDTF telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kehadiran yang lebih beragam dan representatif dalam diskusi mengenai masalah terkait GHG dan memastikan bahwa suara dan keprihatinan negara-negara berkembang, negara-negara berkembang kepulauan kecil, serta negara-negara tertinggal didengar dan dipertimbangkan dalam diskusi-diskusi penting ini,” tutup Ginting. (MYN/MM/BOH)

Reaksi dan Komentar