Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

INILAH LANGKAH KEMENHUB DALAM PENANGANAN TUMPAHAN MINYAK DARI ANJUNGAN ONWJ

INILAH LANGKAH KEMENHUB DALAM PENANGANAN TUMPAHAN MINYAK DARI ANJUNGAN ONWJ

​JAKARTA (9/8) – Kementerian Perhubungan Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terus melakukan upaya untuk menanggulangi musibah tumpahan minyak dari anjungan yang dioperasikan oleh PT. Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Pantai Utara Jawa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad menyatakan bahwa Ditjen Perhubungan Laut dalam hal ini Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kepulauan Seribu selaku Mission Coordinator (MC) Tier 1 sesuai Perpres No. 109 tahun 2006 tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut, terus melakukan sejumlah langkah penanganan tumpahan minyak dari PHE ONWJ tersebut.

Adapun langkah pertama adalah mengaktifkan Posko Penanggulangan Tumpahan Minyak (PTM) Kantor KSOP Kelas IV Kepulauan Seribu yang memantau proses penanganan tumpahan minyak tersebut selama 24 jam.

"Data per Jumat (9/8) Posko tersebut menyebutkan sebanyak total 4.380,85 barrel tumpahan minyak telah berhasil dikumpulkan dan diangkat ke darat dari area pencemaran tumpahan minyak yang meliputi area offshore, yaitu di Blok+ Offshore North West Java dan area Onshore meliputi Sungai Buntu, Pusakajaya Utara, Cemarajaya, dan Sedari," ujar Ahmad.
WhatsApp Image 2019-08-09 at 13.36.59.jpeg
Ahmad melanjutkan bahwa selain melakukan pemantauan secara aktif dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait, Posko tersebut juga berkoordinasi dengan Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok untuk secara rutin memancarkan navigational warning (NAVTEX dan VHF) melalui Stasiun Radio Pantai.

Langkah kedua adalah untuk penanganan offshore secara keseluruhan telah dikerahkan sebanyak 46 unit kapal dengan 926 orang personil yang terlibat dengan menggunakan sepanjang 5.700 meter oil boom. 

"Kementerian Perhubungan juga mengerahkan kapal negara yang terdiri dari kapal patroli Sea and Coast Guard yaitu KN. Alugara milik pangkalan PLP Kelas I Tanjung Priok, kapal negara KNP. 355, KN V054, dan KNS. 017 milik KSOP Kelas IV Kepulauan Seribu serta Kapal Negara Kenavigasian KN. Edam milik Kantor Distrik Navigasi kelas I Tanjung Priok," jelas Ahmad.

Sedangkan di area Onshore, lanjut Ahmad, sudah sepanjang 2.700 meter oilboom terpasang dengan melibatkan sebanyak 1.805 personil yang terdiri dari Ditjen Perhubungan Laut, OSCT, Masyarakat sekitar, Pokwasmas, serta TNI dan Polri.

“Untuk area Onshore, sudah sebanyak total 1.113.082 karung limbah yang terkumpul dan dikirim ke darat,” tukas Ahmad.

Selain itu, Laporan dari Posko juga menyebutkan bahwa selain mobile oil boom sepanjang 2x200 meter yang disiagakan di Teluk Jakarta saat ini juga tersedia static oil boom sepanjang 2x200 meter di FSRU (Floating Storage Regastification Unit) Nusantara Regas.

"Kami terus berupaya untuk memberikan dukungan secara penuh dalam menanggulangi pencemaran tumpahan minyak dan gas ini, misalnya dengan mengerahkan tambahan oil boom, kapal patroli ataupun tambahan buoy atau rambu suar jika dibutuhkan," kata Ahmad.

Langkah ketiga adalah penanganan terhadap masyarakat yang terdampak tumpahan minyak tersebut seperti menyiapkan posko kesehatan dan rutin memberikan informasi terkini kepada masyarakat yang terdampak tumpahan tersebut mengenai langkah yang telah diambil oleh tim penanganan tumpahan  minyak dimaksud.
WhatsApp Image 2019-08-09 at 13.38.28.jpeg
"Kami memastikan bahwa Pertamina sudah menyediakan 6 posko kesehatan di 6 daerah terdampak. Di antaranya Desa Sedari, Desa Cemara Jaya, Desa Tambak Sari, Desa Sungai Buntu, Desa Muara Bening, dan Kepulauan Seribu. Selain itu, akan ada 6 dokter, 5 ambulance dan 37 tenaga medis," jelas Ahmad.

Pemerintah terus memonitor dan meminta Pertamina secara optimal menahan tumpahan minyak agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan serta mengejar, melokalisasi, dan menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan.

Adapun insiden ini juga memberi dampak di darat atau di bagian garis pantai (shoreline). Terhitung ada 2.520 meter fishnet di pesisir pantai yang terdampak.

Upaya penanggulangan bencana juga telah dilakukan bersama baik Ditjen Perhubungan Laut, Pertamina, TNI dan masyarakat sekitar.

"Di darat upaya-upaya sudah dilakukan terutama di kawasan-kawasan mangrove, kawasan-kawasan wisata, kemudian yang banyak penduduknya. Kami memastikan Pertamina sudah pasang oil boom yang untuk kebutuhan di shoreline," tutup Ahmad.

Reaksi dan Komentar