Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

JELANG LIBUR NATARU, KEMENHUB INGATKAN ADANYA CUACA EKSTRIM TERHADAP PELAYARAN DI WILAYAH PAPUA

JELANG LIBUR NATARU, KEMENHUB INGATKAN ADANYA CUACA EKSTRIM TERHADAP PELAYARAN DI WILAYAH PAPUA

​

JAKARTA (7/12) - Jelang musim libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Laut melalui Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) mengingatkan Syahbandar di pelabuhan, para pemilik kapal, Nakhoda kapal untuk selalu memperhatikan faktor cuaca sebelum mengeluarkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) bagi kapal yang akan berlayar khususnya di wilayah perairan Papua.

Direktur KPLP, Ahmad mengatakan berdasarkan data dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan adanya potensi gelombang tinggi selama sepekan di Papua mulai 7 s.d. 13 Desember 2019.

Gelombang tinggi mencapai 0,25-1,25 meter berpotensi terjadi Teluk Cenderawasih, Perairan Yos Sudarso-Merauke dan Perairan Agats-Amamapare.

Potensi gelombang tinggi mencapai 1,25-2,50 meter terjadi di Samudera Pasifik Utara Biak dan Jayapura, Perairan Biak, Perairan Jayapura-Sarmi, Laut Arafuru bagian timur.

Selain pada 7 s.d. 9 Desember 2019, potensi gelombang tinggi di wilayah yang sama juga terjadi pada 10 s.d. 13 Desember 2019. Kemudian di Perairan Biak, Perairan Jayapura-Sarmi, Laut Arafuru bagian timur.

Kemudian pada 10 s.d. 13 Desember 2019 gelombang 2,5 sampai 4 meter berpotensi terjadi di Samudera Pasifik utara Biak dan Jayapura.

Ahmad mengimbau kepada nelayan dan nakhoda kapal agar memperhatikan risiko tinggi gelombang terhadap keselamatan pelayaran.

Ia menjelaskan, tipe perahu nelayan sangat berisiko jika kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 meter, untuk kapal tongkang pada kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 meter.

Sementara, kapal feri  berisiko pada kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter, sementara kapal berukuran besar seperti kapal kargo dan kapal pesiar pada kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter.

"Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap waspada," tutup Ahmad.


Reaksi dan Komentar