Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

JELANG PEMBUKAAN ALUR PELABUHAN PULAU BAAI, DITJEN PERHUBUNGAN LAUT PERIKSA KELAIKLAUTAN 17 KAPAL

JELANG PEMBUKAAN ALUR PELABUHAN PULAU BAAI, DITJEN PERHUBUNGAN LAUT PERIKSA KELAIKLAUTAN 17 KAPALJELANG PEMBUKAAN ALUR PELABUHAN PULAU BAAI, DITJEN PERHUBUNGAN LAUT PERIKSA KELAIKLAUTAN 17 KAPALJELANG PEMBUKAAN ALUR PELABUHAN PULAU BAAI, DITJEN PERHUBUNGAN LAUT PERIKSA KELAIKLAUTAN 17 KAPALJELANG PEMBUKAAN ALUR PELABUHAN PULAU BAAI, DITJEN PERHUBUNGAN LAUT PERIKSA KELAIKLAUTAN 17 KAPAL

BENGKULU (01/07)  – Menjelang pembukaan alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu pada awal Juli 2025, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Pulau Baai melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap 17 kapal yang selama ini tidak bisa berlayar akibat sedimentasi.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh kapal yang akan melintas telah memenuhi standar kelaiklautan, keselamatan, dan keamanan pelayaran. Pemeriksaan tersebut meliputi aspek teknis kapal, peralatan navigasi dan komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta kelengkapan dokumen pelayaran.

“Kegiatan ini kami lakukan sebagai langkah persiapan pembukaan alur, sekaligus untuk memastikan semua kapal yang akan keluar dari kolam pelabuhan berada dalam kondisi laiklaut dan aman untuk berlayar,” ungkap Kepala KSOP Pulau Baai, Petrus Christanto Maturbongs.

Menurut Petrus, langkah ini merupakan bagian dari upaya pemulihan konektivitas pelayaran yang sempat terhambat akibat pendangkalan alur pelabuhan. Setelah alur dinyatakan aman untuk dilintasi, kapal-kapal tersebut direncanakan akan dikeluarkan secara bertahap sesuai jadwal dan kondisi pelayaran yang tersedia.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap 17 kapal tersebut, tercatat sebanyak 12 kapal dinyatakan laiklaut, sedangkan 5 kapal lainnya dinyatakan tidak laiklaut.

“Penyebab utama ketidaklaikan kapal tersebut didominasi oleh masalah administratif, yakni masa berlaku sertifikat kapal yang sudah habis,” jelasnya.

Pihaknya mengatakan, untuk kapal yang masa berlaku sertifikatnya telah habis, sementara sedang dalam pengurusan oleh masing masing agen kapal tersebut untuk diterbitkan sertifikat yang baru.

"Hal ini agar saat alur dibuka, 17 kapal tersebut dapat kembali berlayar," tutur Petrus.

Sementara itu, 12 kapal lainnya dinyatakan dalam kondisi laiklaut dengan status temuan minor, yang artinya kapal tetap dapat dioperasikan namun memerlukan beberapa perbaikan kecil. Kapal-kapal tersebut terdiri dari berbagai jenis, seperti oil tanker, chemical tanker, SPOB (Self Propelled Oil Barge), container, tug boat, dan kapal penumpang.

Ia juga menambahkan, saat ini KSOP Pulau Baai berencana agar trayek perintis untuk kapal KMP. MH Thamrin difungsikan kembali.  Diharapkan dengan difungsikannya kembali trayek ini dapat mendorong kembali aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Pulau Enggano, yang sebelumnya sempat terhambat akibat terbatasnya akses transportasi laut.

ALUR PELAYARAN BEROPERASI PADA MINGGU PERTAMA JULI

Di sisi lain, Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan turut meninjau langsung progres pengerukan alur pelabuhan. Ia menyambut baik bahwa minggu pertama Juli 2025 ini alur pelayaran menuju dan dari Pulau Enggano sudah dapat kembali dioperasikan, meskipun masih dengan pengaturan terbatas untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran.

Menanggapi isu yang beredar terkait ancaman kelaparan di Pulau Enggano, Gubernur Helmi menepis kabar tersebut. 

“Persoalan utama bukan pada ketersediaan bahan pokok, melainkan terganggunya akses transportasi yang menyebabkan masyarakat tidak dapat memasarkan hasil bumi dan laut mereka ke daratan utama,” tegasnya.

Helmi mengungkapkan, masyarakat Enggano adalah masyarakat pekerja keras yang menggantungkan hidupnya dengan menjadi petani dan nelayan.

“Maka ketika akses ke daratan terhambat, bukan soal pasokan yang terganggu, tapi mereka kesulitan menjual hasil alamnya. Oleh karena itu, pembukaan alur ini menjadi kabar baik yang sangat dinantikan,” tuturnya

Dengan rencana operasional terbatas di awal Juli, diharapkan Pelabuhan Pulau Baai dapat kembali berfungsi optimal sebagai simpul distribusi utama bagi masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. (AD/EJ/HJ)

Reaksi dan Komentar