Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

KEMENHUB KUKUHKAN 39 ORANG PEJABAT PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL

KEMENHUB KUKUHKAN 39 ORANG PEJABAT PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPALKEMENHUB KUKUHKAN 39 ORANG PEJABAT PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPALKEMENHUB KUKUHKAN 39 ORANG PEJABAT PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPALKEMENHUB KUKUHKAN 39 ORANG PEJABAT PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPALKEMENHUB KUKUHKAN 39 ORANG PEJABAT PEMERIKSAAN KECELAKAAN KAPAL

JAKARTA (10/8) - Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui Direktorat Jenderal Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai mengukuhkan sebanyak 39 orang Pejabat Pemeriksaan Kecelakaan Kapal Tahun 2023. Pengukuhan dilakukan oleh Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Capt. Antoni Arif Priadi bertempat di Jakarta (9/7). 

Saat ini Direktorat Jenderal Perhubungan Laut memiliki 260 UPT Kesyahbandaran yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Jika mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 6 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kecelakaan Kapal, pemeriksa merupakan tim yang terdiri dari minimal 3 (tiga) orang, jadi total kebutuhan merupakan 780 personel pemeriksa kecelakaan kapal, yang mana saat ini baru 78 personel yang dikukuhkan.

Dalam acara tersebut Capt. Antoni menyampaikan rasa bangga karena kembali mendapat penambahan sebanyak 39 personel yang membuat Pejabat Pemeriksa Kecelakaan Kapal Ditjen Hubla berjumlah total menjadi 117 personel.

“Saya berharap ke depan, Pejabat Pemeriksa Kecelakaan Kapal dapat membantu Syahbandar dalam proses pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal dan tentunya berperan aktif untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal dan mereduksi jumlah kecelakaan kapal yang terjadi 3 tahun terakhir yang semakin meningkat”. Ujar Plt. Dirjen

Capt. Antoni menambahka, menurut laporan tercatat pada tahun 2020 terjadi 87 kecelakaan, tahun 2021 dengan 100 kecelakaan dan tahun 2022 dengan 108 kejadian kecelakaan. Meningkatnya angka kecelakaan kapal tidaklah menjadi suatu beban yang harus diemban oleh Ditjen Hubla saja, melainkan semua harus ikut andil dalam pencegahan terjadinya kecelakaan kapal, baik dari sektor pelaksana, penyedia jasa, pengguna jasa, operator dan Ditjen Hubla selaku regulator sehingga semua sektor dapat terlibat dalam road map to zero accident.

“Setiap langkah kecil sangat berarti dalam sebuah perubahan untuk menjadi lebih baik sehingga ke depan kita harus terus tingkatkan sinergi antar UPT dalam pelaksanaan pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal, contohnya pengiriman Pejabat Pemeriksa Kecelakaan Kapal untuk membantu pemeriksaan pendahuluan kecelakaan kapal pada UPT yang belum memiliki pejabat pemeriksa kecelakaan kapal,” ujarnya.

Proses pengukuhan ini dilakukan sebagai upaya Ditjen Hubla mendapatkan Pejabat Pemeriksa Kecelakaan Kapal yang benar-benar menguasai tugas dengan sungguh-sungguh, berkomitmen, dan profesional sebagai tindak lanjut setelah dinyatakan lulus sertifikasi pemeriksa kecelakaan kapal pada tahun 2022 yang lalu. Sehingga seorang Pejabat Pemeriksa Kecelakaan Kapal mendapatkan legalitas dan dasar hukum ketika melaksanakan tugas dan kewenangan di lapangan.

“saya minta kepada Saudara-saudara yang dikukuhkan agar dapat memahami dengan sungguh-sungguh Peraturan Perundang-undangan beserta turunannya serta jadikan itu sebagai pedoman ketika Saudara-saudara melaksanakan tugas,” tutupnya.

Sebagai informasi, Pemeriksaan terhadap kecelakaan kapal sebagaimana pasal 220 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran adalah kegiatan untuk mencari keterangan dan/atau bukti awal atas terjadinya kecelakaan kapal. 

Reaksi dan Komentar