Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

KEMENHUB SIAPKAN SKENARIO PENERAPAN UJI COBA/TEST BED E-PILOTAGE DI INDONESIA

KEMENHUB SIAPKAN SKENARIO PENERAPAN UJI COBA/TEST BED E-PILOTAGE DI INDONESIAKEMENHUB SIAPKAN SKENARIO PENERAPAN UJI COBA/TEST BED E-PILOTAGE DI INDONESIAKEMENHUB SIAPKAN SKENARIO PENERAPAN UJI COBA/TEST BED E-PILOTAGE DI INDONESIAKEMENHUB SIAPKAN SKENARIO PENERAPAN UJI COBA/TEST BED E-PILOTAGE DI INDONESIA

Padang (25/2) - Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tengah menyiapkan skenario penerapan Uji Coba / Test Bed Pemanduan secara elektronik (E-Pilotage) di perairan Indonesia. Hal ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan peran stasiun Vessel Traffic Service (VTS) yang akan disiapkan sebagai salah satu sarana dan prasarana dalam melakukan pemanduan bagi kapal-kapal yang hendak melintas alur pelayaran maupun selat di perairan Indonesia.

Untuk itu, dilakukan Rapat Penyusunan Bersama Skenario Uji Coba/Test Bed E-Pilotage Service yang diikuti oleh 4 (empat) Distrik Navigasi (Disnav) yaitu Palembang, Dumai, Belawan dan Teluk Bayur.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Andi Hartono menjelaskan Pemanduan secara elektronik (E-Pilotage) yang dilakukan oleh VTS diminta untuk siap mendukung keamanan dan keselamatan pelayaran kapal, khususnya yang berlayar diwilayah perairan pelabuhan dalam rangka menunjang kelancaran transportasi laut dan peningkatan kegiatan ekonomi.

"Masing-masing distrik navigasi (Disnav) yang mengoperasikanb VTS dapat membagi pengalaman dan hasil kerjanya kepada yang lain untuk saling melengkapi, hingga memperoleh konsep Skenario E-Pilotage Service yang lebih komprehensif," kata dia, dalam acara Rapat Penyusunan Bersama Skenario E-Pilotage Service, di Padang, Sumatera Barat, Kamis (25/2).

Dia menyebutkan pemanfaatan teknologi VTS  khususnya peranannya sebagai salah satu sarana dan prasarana dalam mengimplementasikan E-Pilotage akan dapat mencapai efektivitas dan efisiensi. Namun saat ini pemanfaatan fasilitas kenavigasian seperti VTS dalam kegiatan E-Pilotage masih perlu ditingkatkan, dan oleh karena itu harus ada peran yang lebih besar dari VTS dalam memberikan layanan terkait dengan E-Pilotage.

"Aset negara yang nilainya tinggi ini seyogyanya mempunyai kontribusi yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya masyarakat maritim yang bersinggunangan langsung dengan peran VTS. Kemampuan
Sumber Daya Manusia (Operator VTS) pun dituntut memiliki kompetensi yang
dipersyaratkan / bersertifikat," ujarnya.

Dengan demikian, adanya Penyiapan Bersama Skenario Test Bed/Uji Coba E-Pilotage ini diharapkan dapat mewujudkan Sinkronisasi dan harmonisasi keragaman pelayanan, yang dapat menjadi referensi Penyusunan Pedoman untuk pelaksanaan Test Bed/Uji Coba Pemanduan Elektronik (E-Pilotage ) itu sendiri.

"Jelas juga diperlukan adanya Navigation Guideline, sebagai dasar bagi Operator VTS maupun Nakhoda Kapal, saat memasuki suatu perairan Pelabuhan ketika dilakukan kegiatan Test Bed/Uji Coba E-Pilotage. Ini penting untuk memberikan kejelasan informasi situasi dan kondisi yang real diperairan setempat. Sehingga kapal dapat menggunakan rute pelayaran yang aman dan efisien," ujarnya.

Saat ini di Indonesia terdapat 23 VTS yang telah berstandar internasional dengan operator yang memiliki kompetensi berdasarkan ketentuan dari International Maritime Organization (IMO) dan International Association of Marine Aids to Navigation and Lighthouse Authorities (IALA).

Reaksi dan Komentar