Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

KEMENHUB TINGKATKAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN DI MALUKU MELALUI PENETAPAN ALUR-PELAYARAN PELABUHAN LARAT

KEMENHUB TINGKATKAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN DI MALUKU MELALUI PENETAPAN ALUR-PELAYARAN PELABUHAN LARATKEMENHUB TINGKATKAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN DI MALUKU MELALUI PENETAPAN ALUR-PELAYARAN PELABUHAN LARATKEMENHUB TINGKATKAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN DI MALUKU MELALUI PENETAPAN ALUR-PELAYARAN PELABUHAN LARAT
BOGOR(13/10). Kementerian Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terus meningkatkan peran pelabuhan sebagai pendorong perekonomian di suatu daerah, termasuk di Provinsi Maluku. Syarat utama pelabuhan agar dapat memberikan kontribusi bagi aktivitas perekonomian adalah harus memenuhi unsur keselamatan dan keamanan pelayaran di wilayah perairan tersebut dalam hal ini Pelabuhan Larat. Pelabuhan Larat merupakan pelabuhan yang berlokasi di Pulau Larat, di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara Barat Kecamatan Tanimbar Utara. Pelabuhan ini melayani kebutuhan transportasi kapal penumpang tradisional dan trayek kapal perintis ke daerah Tual, Yaru dan Wunlah, serta melayani kebutuhan logistik. Direktur Kenavigasian, Hengki Angkasawan dalam acara FGD Penetapan Alur-Pelayaran Masuk Pelabuhan Larat yang digelar di Bogor, Kamis (13/10) menyebutkan bahwa transportasi merupakan bagian dari unsur vital dalam kehidupan bangsa dan dalam memupuk kesatuan dan persatuan bangsa. Sistem transportasi yang ada dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan mobilitas penduduk dan sumber daya lainnya yang dapat mendukung terjadinya pertumbuhan ekonomi dan perkembangan daerah sekitarnya. "Seiring dengan perkembangan daerah, wilayah Larat menjadi pusat pertumbuhan produksi perkebunan , pariwisata dan memiliki potensi-potensi alam yang belum tergali sepenuhnya. Dengan penetapan alur-pelayaran ini diharapkan dapat menggali potensi-potensi tersebut," ujarnya. Penetapan alur-pelayaran merupakan salah satu pembangunan di bidang transportasi laut yang bertujuan untuk mendukung pembangunan sektor lainnya dalam mewujudkan sasaran pembangunan nasional di seluruh wilayah Indonesia. "Penataan alur - pelayaran sudah selayaknya dilaksanakan untuk dapat segera ditetapkan dalam memperoleh alur pelayaran yang ideal dan memenuhi berbagai aspek kepentingan keselamatan dan kelancaran bernavigasi serta melindungi kelestarian lingkungan maritim," ujar Hengki. Implementasi penetapan alur-pelayaran masuk Pelabuhan Larat Provinsi Maluku diperlukan secara konsisten serta komitmen kuat dari setiap pemangku kepentingan di bidang perhubungan guna membangkitkan transportasi dengan peran masing-masing dalam menjaga keselamatan, keamanan pelayaran di wilayah perairan pelabuhan larat Provinsi Maluku. Adapun FGD penetapan alur-pelayaran yang digelar hari ini merupakan tahapan mekanisme dalam rangka menyempurnakan rancangan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penetapan Alur-Pelayaran Masuk Pelabuhan Larat Di Provinsi Maluku Untuk Mendukung Kelancaran Arus Penumpang Maupun Barang Di Pelabuhan Larat. "Sebelumnya telah dilaksanakan survey oleh tim surveyor Distrik Navigasi Kelas III Tual. FGD ini menjadi sarana untuk bertukar pikiran dalam peningkatan keselamatan, keamanan pelayaran transportasi laut," ujar Hengki. Alur-pelayaran harus ditetapkan dengan batas-batas yang ditentukan secara jelas berdasarkan koordinat geografis dan dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran serta perlu dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk pelayaran. Kemudian diumumkan melalui maklumat pelayaran maupun berita pelaut Indonesia. Kasubdit Info Nautika Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), Letkol Dhony mengatakan alur-pelayaran Pelabuhan Larat memiliki panjang alur ± 3,1 km, lebar 132 m dan kedalaman 5 s.d 70 m. "Terdapat 3 SBNP existing. Tidak Terdapat Obyek Rintangan Navigasi Bawah Laut (ranjau laut, kabel dan pipa bawah laut). Sekitar alur diluar koridor terdapat budidaya rumput laut dan bagan serta beberap tiang listrik," ujarnya. Selain itu, arus max 0,117 m/s arah barat, Angin max 9,61 m/s dari barat dan gelombang max 2 mtr (Maret). Memiliki Tipe Pasut Campuran Condong Harian Ganda, dengan Z0 : 110 cm. Dan tidak berada dalam area konservasi (RZWP3K Provinsi Maluku). Koordinator Kelompok Pengamatan Laut Disnav Tual, Mulyadi Koedoeboen mengungkapkan tim surveyor telah melaksanakan berbagai pengamatan dengan menggunakan berbagai metode. "Sistem rute dari hasil perhitungan desain alur, sistem rute yang direkomendasikan di pelabuhan Larat adalah sistem dua arah (two way routes)," ujarnya. Sebagai informasi, FGD ini turut menghadirkan narasumber Surveyor Direktorat Kenavigasian Dian Ayub S, Pengevaluasi Program dan Perancangan Teknis Pengerukan dan Reklamasi, Irfan Hudori serta dihadiri oleh perwakilan dari Pushidrosal, Kemenkomarves, KKP, Kepala Distrik Navigasi Kelas III Tual; Kepala Kantor UPP Kelas II Saumlaki; Perwakilan Dari Pemerintah Daerah Provinsi Maluku; Perwakilan Dari Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Barat Daya; Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Maluku Barat Daya Beserta Jajarannya; dan stakeholder terkait lainnya yang hadir secara langsung maupun virtual.

Reaksi dan Komentar