Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

Kesiapsiagaan Awak Kapal Dishub DKI Jakarta Diuji melalui Emergency Drill Abandon Ship, Fire Drill, dan Man Overboard

Kesiapsiagaan Awak Kapal Dishub DKI Jakarta Diuji melalui Emergency Drill Abandon Ship, Fire Drill, dan Man OverboardKesiapsiagaan Awak Kapal Dishub DKI Jakarta Diuji melalui Emergency Drill Abandon Ship, Fire Drill, dan Man OverboardKesiapsiagaan Awak Kapal Dishub DKI Jakarta Diuji melalui Emergency Drill Abandon Ship, Fire Drill, dan Man OverboardKesiapsiagaan Awak Kapal Dishub DKI Jakarta Diuji melalui Emergency Drill Abandon Ship, Fire Drill, dan Man Overboard

Jakarta, 26 Agustus 2026 — Ketika keadaan darurat terjadi di laut, tidak ada waktu untuk panik. Setiap detik menentukan keselamatan. Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan emergency drill yang dilakukan awak kapal Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta melalui simulasi abandon ship, fire drill, dan man overboard, termasuk latihan penggunaan Inflatable Liferaft (ILR).

Rangkaian latihan ini menjadi sarana untuk menguji kesiapan awak kapal dalam menghadapi berbagai skenario keadaan darurat di atas kapal. Tidak sekadar memahami prosedur keselamatan secara teori, awak kapal dituntut mampu mengambil tindakan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

Dalam pelaksanaan fire drill, awak kapal mempraktikkan respons terhadap simulasi kebakaran serta penggunaan peralatan pemadam sesuai prosedur keselamatan. Sementara pada man overboard drill, awak kapal dilatih untuk memberikan respons terhadap kondisi seseorang yang jatuh ke laut dengan mengutamakan kecepatan pertolongan dan keselamatan.

Pada skenario abandon ship, awak kapal mempraktikkan prosedur evakuasi dan penggunaan Inflatable Liferaft (ILR) sebagai sarana penyelamatan dalam kondisi darurat. Latihan ini dilakukan untuk memastikan awak kapal memahami fungsi, prosedur penggunaan, serta mampu mengoperasikan peralatan keselamatan tersebut dengan tepat sesuai ketentuan yang berlaku.

Seluruh rangkaian drill dilaksanakan oleh awak kapal Dishub Provinsi DKI Jakarta sebagai pelaksana latihan. Sementara itu, Marine Inspector (MI) KSOP Kelas IV Muara Angke melakukan pengawasan secara langsung untuk memastikan setiap tahapan latihan berjalan dengan tepat, benar, aman, dan sesuai dengan prosedur keselamatan pelayaran.

Kepala KSOP Kelas IV Muara Angke, Cahyo Eko Putranto, S.T., M.T., menegaskan bahwa kesiapsiagaan awak kapal merupakan salah satu faktor penting dalam menjamin keselamatan pelayaran.

«“Keselamatan pelayaran tidak cukup hanya dengan tersedianya peralatan keselamatan di atas kapal. Awak kapal harus memahami cara penggunaan dan mampu bertindak cepat serta tepat ketika terjadi keadaan darurat. Karena itu, pelaksanaan drill menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapsiagaan awak kapal sekaligus memastikan prosedur keselamatan benar-benar diterapkan,” ujar Cahyo.»

Menurut Cahyo, latihan secara langsung memberikan kesempatan kepada awak kapal untuk menguji kemampuan menghadapi kondisi darurat. Melalui simulasi, koordinasi antarawak, komunikasi, pemahaman terhadap prosedur, serta penguasaan peralatan keselamatan dapat dievaluasi secara nyata.

“Pengawasan Marine Inspector juga menjadi bagian dari upaya kami untuk memastikan aspek keselamatan diterapkan secara konsisten. Setiap tahapan latihan dapat diamati dan dievaluasi sehingga apabila terdapat kekurangan, dapat segera dilakukan perbaikan,” jelasnya.

Cahyo menambahkan, budaya keselamatan harus dibangun melalui kebiasaan dan latihan yang dilakukan secara konsisten, bukan hanya sebagai pemenuhan aspek administratif.

«“Kami terus mendorong agar budaya keselamatan tidak berhenti pada pemenuhan administratif, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan dalam setiap kegiatan operasional kapal. Kesiapan awak kapal, pemahaman terhadap prosedur, dan penguasaan peralatan keselamatan merupakan satu kesatuan yang harus berjalan bersama,” lanjut Cahyo.»

Pelaksanaan emergency drill tersebut diharapkan semakin memperkuat kemampuan awak kapal Dishub Provinsi DKI Jakarta dalam menghadapi berbagai potensi keadaan darurat, sekaligus membangun respons yang cepat, tepat, dan terukur dalam situasi kritis.

Sebab, keselamatan di laut tidak hanya ditentukan oleh seberapa lengkap peralatan yang tersedia, tetapi juga seberapa siap manusia yang menggunakannya.

Ketika keadaan darurat terjadi, kepanikan bukanlah pilihan. Kesiapsiagaan adalah kunci. KSOP Kelas IV Muara Angke berkomitmen untuk terus memperkuat pengawasan keselamatan pelayaran dan mendorong penerapan budaya keselamatan secara konsisten guna mendukung terwujudnya pelayaran yang aman, tertib, dan selamat.

AWAK KAPAL Drill Keselamatan Pelayaran

Reaksi dan Komentar