Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

KSOP Kelas IV Kalianget Turut Serta Memperingati Hari Batik Nasional Tahun 2025

KSOP Kelas IV Kalianget Turut Serta Memperingati Hari Batik Nasional Tahun 2025

Batik, sebuah kesenian khas tradisional Indonesia adalah kain yang dihias sedemikian rupa melalui pola-pola menggunakan lilin dan media pewarna khusus. Kata “batik” berasal dari Bahasa Jawa yaitu ‘Amba’ yang memiliki arti menulis, dan ‘tik’ yang bermakna titik. Jadi secara harfiah batik adalah menulis titik atau membuat pola pada selembar kain dengan titik-titik kecil sebagai pembentuk motif.

Di Indonesia, batik mempunyai akar sejarah nan panjang serta berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan-kerajaan besar di Indonesia, semisal Majapahit dan Kesultanan Mataram, kemudian berkembang di Keraton Surakarta dan Yogyakarta serta daerah-daerah lainnya. Sejarah batik tertua di Indonesia ada di Sulawesi dengan ditemukannya tekstil batik berumur sejak abad ke-5 M. Pada zaman dahulu penggunaan batik terbatas hanya digunakan oleh kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan sebagai simbol status sosial dan budaya yang khas.

Perkembangan motif batik mengikuti kearifan daerah dimana batik berada. Setiap motif batik memiliki makna dan filosofi tersendiri. Seperti motif Batik Parang yang berasal dari Kerajaan Mataram, memiliki arti kekuatan dan keberanian. Begitu pula motif Batik Kawung di Yogyakarta melambangkan keseimbangan dan keadilan. Sedangkan motif batik di Kabupaten Sumenep, banyak dipengaruhi oleh alam dan pilihan warnanya menggunakan warna-warna yang lembut sebagaimana karakter masyarakat Sumenep.

Sebagai sebuah seni yang telah membudaya, batik telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Proses pengakuan oleh UNESCO dimulai pada 4 September 2008, dan pada 2 Oktober 2009 UNESCO secara resmi menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Selanjutnya, melalui Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Kalianget yang merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Kementerian Perhubungan, turut serta memperingati hari batik nasional tahun 2025. Melalui Surat Kepala Biro Umum Kementerian Perhubungan Nomor SE-STJ 4 Tahun 2025 dan Surat Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Nomor UM.006/342/DJPL/2025 tanggal 1 Oktober 2025, maka seluruh pegawai KSOP Kelas IV Kalianget memakai batik pada hari Kamis tanggal 02 Oktober 2025.

Kepala Kantor KSOP Kelas IV Kalianget Bapak Azwar Anas, S.H., M.Hum. menyampaikan “Seyogianya, batik yang berakar dari bangsa kita, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, harus dirayakan dengan penuh kebanggaan. Memakai batik hendaknya tidak kita lakukan hanya sebatas di hari batik nasional ini, melainkan juga pada hari-hari lainnya. Kebiasaan yang dibalut kebanggaan, pada akhirnya akan membentuk karakter cinta, dalam hal ini kepada batik sebagai warisan nusantara, Indonesia yang sangat kita banggakan.” Katanya di grup internal KSOP Kelas IV Kalianget.

Reaksi dan Komentar