Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

PERIODE 2014 S.D. 2017, SUDAH 101 PERUSAHAAN TERDAFTAR MEMILIKI SIUPPAK

PERIODE 2014 S.D. 2017, SUDAH 101 PERUSAHAAN TERDAFTAR MEMILIKI SIUPPAK

​JAKARTA (29/12) – Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah mengeluarkan SIUPPAK atau Surat Izin Usaha Perekrutan dan Penempatan Awak Kapal untuk 101 (seratus satu) perusahaan dalam periode 2014 s.d. 2017.

Demikian disampaikan oleh Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Junaidi, pada saat acara penyerahan SIUPPAK yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo kepada 4 (empat) perusahaan yang telah memenuhi persyaratan izin usaha pada Jumat (28/12) di Pusat Pelayanan Satu Atap Kementerian Perhubungan Gd. Cipta Lt. 1 Kemenhub.

Menurutnya, memiliki SIUPPAK merupakan persyaratan wajib yang harus dipenuhi oleh badan usaha yang bergerak di bidang keagenan awak kapal sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 84 Tahun 2013 tentang Perekrutan dan Penempatan Awak Kapal.

Hari ini keempat perusahaan yang mendapatkan SIUPPAK tersebut yaitu PT. Alpha Magsaysay International, PT. Kia Marindo Jusema, PT. Karunia Empat Bersama, dan PT. Danawa Gemah Samudra.

“Dengan diberikannya izin usaha perekrutan awak kapal kepada keempat perusahaan tersebut, maka saat ini sudah ada 101 perusahaan pemegang SIUPPAK yang terdaftar di Kementerian Perhubungan, sejak tahun 2014 s.d. 2017,” ujar Junaidi.

Lebih lanjut Junaidi meminta kepada seluruh perusahaan pemegang SIUPPAK untuk memenuhi kewajibannya sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

“Perusahaan pemegang izin usaha perekrutan dan penempatan awak kapal memiliki kewajiban untuk melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya, melakukan kegiatan operasional secara terus menerus dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah izin usaha diterbitkan, menyampaikan laporan semesteran dan laporan tahunan kepada Direktur Jenderal, melaporkan apabila terjadi perubahan penanggungjawab/pemilik perusahaan atau domisili serta pembukaan kantor cabang perusahaan,” jelasnya.
IMG-20171229-WA0023.jpg
Apabila kewajiban-kewajiban tersebut tidak dipenuhi, lanjut Junaidi, maka akan dicabut izin usahanya.

“Selain mencabut izin usaha, Pemerintah juga telah menetapkan sanksi bagi perusahaan keagenan awak kapal yang tidak memiliki izin usaha maka kegiatannya dianggap illegal dan dapat dipidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Pelayaran Nomor 17 Tahun 2008,” terang Junaidi.

Selain itu, Junaidi menyebutkan bahwa Pemerintah menerbitkan SIUPPAK didasari oleh kebutuhan di lapangan dan tidak serta merta semua perusahaan yang mendaftar bisa mendapatkan SIUPPAK. Hal tersebut untuk mendapatkan persaingan usaha yang lebih baik kedepannya.

“Kebutuhan surat izin SIUPPAK juga harus dibatasi, sehingga ke depan akan terjadi persaingan usaha yang baik,” imbuhnya.

Selanjutnya, perusahaan yang telah memiliki SIUPPAK bisa menempatkan awak kapal di seluruh dunia. Namun, Pemerintah mengimbau kepada para pelaut yang akan bekerja untuk mendaftar di perusahaan yang sudah mendapatkan SIUPPAK sehingga para pelaut yang bekerja di atas kapal akan mendapatkan kepastian dan jaminan hak dan kewajiban mereka sesuai dengan Perjanjian Kerja Laut yang disepakati.

“Melalui perusahaan yang terdaftar ini maka kita dapat memantau para pelaut yang bekerja di atas kapal sehingga jika terjadi hal-hal yang merugikan pelaut, Pemerintah dapat hadir untuk membantu dan memberikan perlindungan bagi awak kapal,” tutup Junaidi.


Reaksi dan Komentar