Logo Hari Besar
Beranda
Visi & Misi
Tugas dan Fungsi
Struktur Organisasi
Pejabat DJPL
Sekretariat Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut
Direktorat Kepelabuhanan
Direktorat Perkapalan dan Kelautan
Direktorat Kenavigasian
Direktorat Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran
Makna Logo
Lagu kebangsaan, Hymne dan Mars
Layanan Terpadu Kemaritiman
Kebijakan Layanan
Jadwal Kapal
Verifikasi Dokumen
Lacak Permohonan
Hublapedia
Aplikasi Maritim Terintegrasi
Berita
Pengumuman
Newsletter
Galeri Foto & Video
Media Sosial
Event
Maklumat Pelayaran
Peraturan Menteri
Naskah Dinas
Perjanjian
Kerjasama Luar Negeri
Indonesia Maritime Safety Information
Indonesia Ship Reporting System
Indonesia di IMO
Tol Laut
Profil PPID
Regulasi
Maklumat dan Standar Biaya Layanan
Informasi Publik
Permohonan Informasi
UPT
Data
Panduan
FAQ
Kontak

Tanjung Priok perlu tambah jam Operasional 03/09/2014

Tanjung Priok perlu tambah jam Operasional 03/09/2014Tanjung Priok perlu tambah jam Operasional 03/09/2014Tanjung Priok perlu tambah jam Operasional 03/09/2014

​​JAKARTA - Waktu tinggal (dwelling time) di pelabuhan peti kemas Tanjung Priok, Jakarta, masih terlambat 1,98 hari dari target. Salah satu kendala kondisi tersebut adalah karena belum semua pemangku kepentingan di pelabuhan mampu beroperasi 7 kali 24 jam.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementrian Perhubungan Bobby R Mamahit, Rabu (4/6), di Jakarta, menyampaikan, waktu bongkar muat barang hingga keluar dari pelabuhan di Tanjung Priok saat ini rata-rata 5,98 hari.

Waktu tinggal rata-rata paling cepet itu di pelabuhan yang dikelola Jakarta International Container Terminal, yaitu 4,97 hari, sedangkan yang paling lama itu di bawah pengelolaan PT Multi Terminal Indonesia, 7,23 hari, ucap Bobby.

Waktu rata-rata keseluruhan sudah semakin singkat dibandingkan Januari 2013 yang mencapai 8,8 hari, tetapi belum memenuhi target dari Menteri Koordinator Perekonomian (saat itu Hatta Rajasa) untuk menekan waktu menjadi tinggal empat hari. Menurut Bobby, salah satu penyebab utama adalah pelayanan di pelabuhan yg belum bisa dijalankan 7 kali 24 jam.

Bobby mencontohkan, pelayanan perbankan tutup pada hari Sabtu dan Minggu serta belum memungkinkandilaksanakan 24 jam.

Untuk mengatasi masalah waktu tinggal, pemerintah juga melihat alternatif pemanfaatan pelabuhan darat Cikarang atau Cikarang Dry Port (CDP) di Bekasi, Jawa Barat.

Managing Director PT Cikarang Inland Port Benny Woenardi mengatakan, kualitas pelayanan di CDP terus meningkat. Kini, sekitar 300 perusahaan telah bermitra dengan CDP.​

Reaksi dan Komentar